Melawan Cinta Masyarakat Perokok Terhadap Rokok

neuron

Artikel berikut saya dapat dari sharing via mediasosial twitter dan whatsapp  group. Sekiranya menarik untuk dibaca dan di share disini. Tulisan asli oleh dr. Pukovisa Prawiroharjo. Seorang dokter spesialis Syaraf peminatan Neurobehavior (fungsi kognitif),staf pengajar FKUI,wakil ketua IDI cab jakpus,wakil sekjen Majelis Kehormatan Etika Kedokteran (MKEK) IDI. Begitu info sekilas tentang beliau dari halaman twitternya @pukovisa. Untuk Indonesia bebas asap rokok.

 

Melawan Cinta Masyarakat Perokok Terhadap Rokok

 

Melawan Cinta Masyarakat Perokok terhadap Rokok

– Pukovisa Prawiroharjo –

Saya bersahabat dan bersilaturahmi dengan para perokok. Sepenuhnya saya memahami bahwa rokok itu membuat nyaman para ¨ahli hisap¨ dan pada tingkat yang adiksi, bagi mereka, seakan hidup menjadi tak bermakna tanpa ¨Tuhan 5 cm¨ demikian sang pujangga Taufik Ismail menyebutnya. Berbagai ekspresi akan dikeluhkan saat para perokok tak bersua kekasih hatinya dengan tinggi badan sekitar 5 cm tadi di satu hari. Bahkan gelisah mulai hadir jika bersua sang pujaan namun tak sesering biasanya, sebagaimana seorang umat beragama terbiasa ibadah akan gelisah saat tidak melakukan ibadah, maupun seseorang yang biasa ditemani isteri/suaminya setiap hari merasa ada yang hilang saat kekasihnya tidak di sisinya.

Demikianlah Tuhan Mencipta sirkuit di otak kita, sirkuit cinta dan ketergantungan. Setiap manusia memiliki ketergantungannya, menurut bahasan ahli agama, manusia memiliki Tuhannya masing-masing dan sesuatu yang dicinta tak lagi memakai nalar murni seratus persen. Dan bagi para perokok, sirkuit cinta dan merasa tergantung itu bekerja untuk tembakau yang nyaman dihisap. Perangkat sirkuit cinta itu memang tersedia dalam otak kita, tinggal ke mana ia akan kita sandarkan.

Ya benar, tidak ada makna lain yang pas dalam hubungan antara perokok dengan rokok yang dihisap seringkali setiap hari selain cinta. Cinta memang buta. Maksudnya, sirkuit nalar mesti rela ditutup matanya demi cinta yang menyala-nyala. Aktivasi nalar kini bahkan telah dipandu secara vulgar pada setiap bungkus rokok, era dahulu dengan tulisan rokok menyebabkan berbagai penyakit, kini dengan tulisan sederhana bermakna rokok, barang ini siap membunuhmu, disertai gambar penyakit mengerikan akibat rokok. Apakah membuat kapok para perokok dan menurun angka perokok? Nyatanya tidak bermakna. Cinta mengalahkan nalar sekali lagi.

Bukti lain bahwa memang para perokok mencintai sepenuh hati sang rokok, adalah saat ada berbagai kebijakan dan perlawanan dari manusia lain tentang apa yang menjadi dimensi kecintaan, dalam hal ini rokok, maka wajar dan sewajarnya demikian, para pecinta akan membuat perlawanan terhadap berbagai kebijakan anti rokok. Tentu supaya tidak norak, perlawanan di media-media publik akan memakai berbagai alternatif pemikiran yang tampak logikanya runtun dan berkelindan. Segala daya silogisme, analogi, dan berbagai pernyataan masuk akal akan dibangun. Termasuk nada simpati pada petani dan pengrajin rokok yang tentu kebanyakan mereka tidak pernah bertani tembakau juga. Namun tetap tidak akan mampu menghapus fakta otentik kesehatan dunia, merokok jelas merugikan kesehatan, hingga berujung kematian.

Lalu apa yang negara dan kita dapat lakukan untuk melawan kecintaan masyarakat perokok demi tujuan peningkatan taraf kesehatan masyarakat yang lebih agung? Rumusnya sederhana, sirkuit cinta perlu dilawan pula dengan sirkuit cinta yang lebih kuat. Maka perlu dicari masyarakat perokok ini mencintai apa lagi selain rokoknya, dengan tingkat yang lebih kuat. Jika Tuhan memang hal paling digandrungi masyarakat perokok, maka benturkanlah cinta terhadap rokok dengan cinta terhadap Tuhan. Jika kehidupan yang diagungkan, benturkanlah dengan kehidupan perokok yang memperpendek masa depan. Jika cinta pada bangsa dan negara yang juga menjadi cinta para perokok, maka benturkanlah antara keduanya dipimpin kepala negara langsung. Jika istri/suami yang dicinta, maka ketahanan keluarga dan membudayakan diri menolak pinangan dari perokok menjadi nilai masyarakat. Jika lowongan pekerjaan yang dicinta mereka, maka kebijakan syarat tidak merokok menjadi bagian dari setiap iklan lowongan pekerjaan. Jika jaminan akses kesehatan dan pendidikan yang dicinta, maka persulit akses kesehatan dan pendidikan dapat menjadi kebijakan. Jika uang yang diagungkan, maka benturkanlah dengan uang dengan naikkan cukai setinggi mungkin.

Kali ini, izinkanlah negara membuat kebijakan demi kebaikan bangsa,  sesungguhnya demi kebaikanmu pula, dengan membenturkan sedikit cinta sahabatku para perokok dengan cinta kepada uang. Naiknya juga tidak bisa dibilang drastis, namun semoga cukup efektif memadamkan nyala sirkuit cinta di kalangan masyarakat nyaris miskin. Tentu tulisan ini dibuat atas nama sirkuit cinta yang sama-sama ada di perangkat otak kita, yaitu semata karena cinta saya kepada sahabat-sahabat semua.

 

Pukovisa Prawiroharjo

Staf Pengajar Neurologi FKUI/RSCM

Leave a Reply

[+] kaskus emoticons nartzco